|
Kasih,
Tak cukupkah bukti cinta yang kuramu lewat deretan kata?
Kasih,
Memang diksiku dangkal dan tak memesona
Kasih,
Jangan tanyakan imaji nan puisi
Aku tak berbakat dalam dunia literasi
Kasih,
Untuk terakhir kalinya kan kubuktikan degub asing ini
Ambillah sebilah pisau bergigi
Lalu, belahlah dada katak yang t'lah kutangkap di kali
Jangan belah dadaku ini!
Aku masih ingin hidup lama, bahkan sampai tua nanti
Jika aku mati
Siapa yang kan tempati mahligai cintamu nanti?

kahkahkah
Labirin Gila, 14 Februari 2015
Tak cukupkah bukti cinta yang kuramu lewat deretan kata?
Kasih,
Memang diksiku dangkal dan tak memesona
Kasih,
Jangan tanyakan imaji nan puisi
Aku tak berbakat dalam dunia literasi
Kasih,
Untuk terakhir kalinya kan kubuktikan degub asing ini
Ambillah sebilah pisau bergigi
Lalu, belahlah dada katak yang t'lah kutangkap di kali
Jangan belah dadaku ini!
Aku masih ingin hidup lama, bahkan sampai tua nanti
Jika aku mati
Siapa yang kan tempati mahligai cintamu nanti?
kahkahkah
Labirin Gila, 14 Februari 2015

Benar adanya
Atau hanya sangkaan belaka?
Bersamaan kilat mencambuk dunia
Menyisakan guntur, memekik telinga
Ibarat rumus matematika
"Jika dan hanya jika"
Ya, hanya jika
Kini, sulit menjadi realita
Adakah binar itu yang lama
Atau binar baru t'lah mendepaknya?
-Akun Bayangan-
Di bawah rinai hujan, 14 Februari 2015
Atau hanya sangkaan belaka?
Bersamaan kilat mencambuk dunia
Menyisakan guntur, memekik telinga
Ibarat rumus matematika
"Jika dan hanya jika"
Ya, hanya jika
Kini, sulit menjadi realita
Adakah binar itu yang lama
Atau binar baru t'lah mendepaknya?
-Akun Bayangan-
Di bawah rinai hujan, 14 Februari 2015
Titik gila!
Lengkung kurva dalam bingkai rupa tak kujumpa
Ada apa dengan dunia?
Diam, tanpa kata memang buat ambigu rasa
Mengaburkan keyakinan yang t'lah terpendam lama
Lengkung kurva dalam bingkai rupa tak kujumpa
Ada apa dengan dunia?
Diam, tanpa kata memang buat ambigu rasa
Mengaburkan keyakinan yang t'lah terpendam lama
Titik gila!
Redup cahaya harap; hampir sekarat
Tirai tanya pun tergerai; tak terikat
Kebenaran dalam jawab tersekat
Titik gila buat atma terjerat
Pun rongga kata tercekat
Redup cahaya harap; hampir sekarat
Tirai tanya pun tergerai; tak terikat
Kebenaran dalam jawab tersekat
Titik gila buat atma terjerat
Pun rongga kata tercekat
Di Titik Gila,
14 Februari 2015
By: Sharmay Astamanggala
Kala
'ku sendiri bersidekap bersama lembaran saksi bisu, angin berembus membawaku;
melesat— menghantam cahaya. Ah, tawa lepas itu ... aku
merindukannya. Maksudku kita, kita merindukan saat ide-ide gila mengiring
langkah, pun tindakan absurd. Padahal, sejatinya kita tahu, akan ada semburan
yang memerahkan telinga, mendongkolkan hati ...
Namun,
scene itulah yang melekat dan senantiasa kita putar dalam ruang istimewa.
Embusan angin menampar kesadaranku. Lembaran saksi bisu yang dulu kita ramu
bersama kini hanya bercerita lewat tinta kenangan.
Tasikmalaya, April 2015
Tasikmalaya, April 2015
by: Siti Humairoh (dalam Buku Antologi Tinta Kenangan)
Lingkaran lambang semesta terhampar
Seruling melengkingkan rindu nan sendu
Mengiring langkah mereka tuk mengitar; pelan
Selepas si hitam ego melekat ... terlucut; mati
Lantas, nisannya mereka jadikan turban
O, kini tersisa kafan yang membungkus
Seruling melengkingkan rindu nan sendu
Mengiring langkah mereka tuk mengitar; pelan
Selepas si hitam ego melekat ... terlucut; mati
Lantas, nisannya mereka jadikan turban
O, kini tersisa kafan yang membungkus
Mencalar garis rotasi; cepat
Tak searah perputaran jam
Menjelma tarian indah bak teratai putih merekah di atas air
Jejiwa mentah kini telah masak, hingga terbakar oleh cinta-Nya
O, inilah sebenar malam pengantin
Sema menenggelamkan mereka dalam lautan Maha Cinta
Tasikmalaya, 11 Mei 2015
****
Nb: Sema: Dzikir
Tak searah perputaran jam
Menjelma tarian indah bak teratai putih merekah di atas air
Jejiwa mentah kini telah masak, hingga terbakar oleh cinta-Nya
O, inilah sebenar malam pengantin
Sema menenggelamkan mereka dalam lautan Maha Cinta
Tasikmalaya, 11 Mei 2015
****
Nb: Sema: Dzikir

