Titik gila!
Lengkung kurva dalam bingkai rupa tak kujumpa
Ada apa dengan dunia?
Diam, tanpa kata memang buat ambigu rasa
Mengaburkan keyakinan yang t'lah terpendam lama

Titik gila!
Redup cahaya harap; hampir sekarat
Tirai tanya pun tergerai; tak terikat
Kebenaran dalam jawab tersekat
Titik gila buat atma terjerat
Pun rongga kata tercekat


Di Titik Gila, 14 Februari 2015
By: Sharmay Astamanggala



Kala 'ku sendiri bersidekap bersama lembaran saksi bisu, angin berembus membawaku; melesatmenghantam cahaya. Ah, tawa lepas itu ... aku merindukannya. Maksudku kita, kita merindukan saat ide-ide gila mengiring langkah, pun tindakan absurd. Padahal, sejatinya kita tahu, akan ada semburan yang memerahkan telinga, mendongkolkan hati ...

Namun, scene itulah yang melekat dan senantiasa kita putar dalam ruang istimewa. Embusan angin menampar kesadaranku. Lembaran saksi bisu yang dulu kita ramu bersama kini hanya bercerita lewat tinta kenangan.


 Tasikmalaya, April 2015
by: Siti Humairoh (dalam Buku Antologi Tinta Kenangan)


Lingkaran lambang semesta terhampar
Seruling melengkingkan rindu nan sendu
Mengiring langkah mereka tuk mengitar; pelan
Selepas si hitam ego melekat ... terlucut; mati
Lantas, nisannya mereka jadikan turban
O, kini tersisa kafan yang membungkus 

Mencalar garis rotasi; cepat
Tak searah perputaran jam
Menjelma tarian indah bak teratai putih merekah di atas air
Jejiwa mentah kini telah masak, hingga terbakar oleh cinta-Nya

O, inilah sebenar malam pengantin
Sema menenggelamkan mereka dalam lautan Maha Cinta


Tasikmalaya, 11 Mei 2015


****
Nb: Sema: Dzikir