Kala
'ku sendiri bersidekap bersama lembaran saksi bisu, angin berembus membawaku;
melesat— menghantam cahaya. Ah, tawa lepas itu ... aku
merindukannya. Maksudku kita, kita merindukan saat ide-ide gila mengiring
langkah, pun tindakan absurd. Padahal, sejatinya kita tahu, akan ada semburan
yang memerahkan telinga, mendongkolkan hati ...
Namun,
scene itulah yang melekat dan senantiasa kita putar dalam ruang istimewa.
Embusan angin menampar kesadaranku. Lembaran saksi bisu yang dulu kita ramu
bersama kini hanya bercerita lewat tinta kenangan.
Tasikmalaya, April 2015
Tasikmalaya, April 2015
by: Siti Humairoh (dalam Buku Antologi Tinta Kenangan)

